the power of feminism

Berikata.com – Di era hari ini,kita pasti sering mendengar tentang feminisme,feminisme sempat menjadi perbincangan hangat di kalangan aktivis mahasiswa wanita dan masyarakat pada umumnya.

Tapi,masih banyak perempuan sibuk bertanya, juga masih saja sibuk berdebat, melontarkan berbagai argumentasi yang bisa jadi dibangun dari interpretasi pribadi. Isu feminimisme memang tidak habis-habisnya diperbincangkan. Tapi sesungguhnya, sudahkah kita bersepakat koridor feminisme yang diperdebatkan?

Dalam hal ini,saya berpendapat Feminisme tidak sama dengan emansipasi,kita harus bisa memahami hal tersebut. Jika emansipasi diterjemahkan sebagai pandangan yang mengusung peran serta perempuan di ruang publik. Maka sesungguhnya feminisme lebih dari itu,lebih dari itu maksudnya bagaimana ? Jika emansipasi adalah mendudukan perempuan setara dengan pria dalam ruang publik,maka feminisme lebih radikal dari sekedar berdiri setara dengan pria di ruang publik,bahkan bisa mendominasi ruang publik bisa di artikan feminisme yang radikal.

Apa yang diperkenalkan oleh Charles Fourier; aktivis sosialis utopis pada tahun 1837 mengenai feminisme adalah bentuk emansipasi secara lebih radikal. Dengan latar belakang kejenuhan akan nasib kaum wanita yang terjadi di barat, feminisme lahir dan mendukung persamaan mutlak hak serta kewajiban antara laki-laki dan perempuan di berbagai bidang. Mulai dari Hukum,Politik,Ekonomi,yang akhirnya memunculkan gagasan teori feminisme dan masih banyak lagi.

Jika di masa lalu kita mengacu dalam sejarah romawi dan China,Dalam tradisi awal romawi kita dapat kesimpulan bahwa perempuan hanya di ibaratkan seperti barang,dengan maksud hanya untuk di gunakan sebagai alat saat di butukan saja dan dalam hal kepememilikan perempuan adalah keluarganya/Ayah dan Suaminya.

Jika di China,lebih parah dari itu,perempuan di dalam tradisi china di miliki oleh suaminya. tetapi,jika suaminya meninggal,maka wanita itu tidak memiliki hak lagi,bahkan hak untuk hidup,sebuah awal yang buruk dari landasan pemikiran patriarki. Maka dari itu Feminist Teory muncul.

Feminisme adalah sinopsis dari konstruksi besar ketidakadilan. Hanya pada pengalaman perempuanlah seluruh praktik diskriminasi membekas. Seorang perempuan tidak lahir merdeka. Ia lahir dalam stigma: bahwa ia berkedudukan di bawah laki-laki. Bahwa ia bukan penyandang hak politik. Bahwa ia bukan pengucap ayat-ayat surga. Bahwa ia bukan pemikir rasional. Bahwa ia harus submisif dalam seks. Bahwa ia sebenarnya bukan dirinya.

Imperatif ini bekerja dalam psikologi politik kekuasaan: bahwa tubuh perempuan adalah objek seksual. Bahwa kamera infotainmen adalah mata laki-laki.

Tapi,dalam era hari ini,perempuan di beri keluasan untuk mengambil peran peran dalam aspek sosial politik yang bisa melebihi pria,mengambil peran sebagai partisipan dalam ruang publik yang bebas.
Jadi,jika kesempatan ini tidak di gunakan oleh perempuan maka,adalah kerugian besar bagi dirinya.
Karena sesungguhnya perempuan adalah satu kekuatan besar untuk melawan ketidakadilan dari “public policy” yang di landasi oleh pikiran patriarki.

Bryan Pratama.
Ketua BEM FH UM Jember

admin

leave a comment

Create Account



Log In Your Account