Konsep feminisme dalam ketidakadilan terhadap Ekologi

Konsep feminisme dalam ketidakadilan terhadap Ekologi

Konsep feminisme dalam ketidakadilan terhadap Ekologi

​Akhir-akhir ini pikiran kita diganggu oleh persoalan-persoalan lingkungan. Sejumlah konflik sumber daya alam terjadi di negeri ini. Berbagai perlawanan dari masyarakat (adat) mengemuka sebagai kulminasi atas penindasan yang tak kunjung mendekat pada keadilan. Konflik sumber daya alam berdampak pada hidup perempuan. Posisi perempuan semakin rentan dalam alam dan kehidupan sosial.

​Perjuangan menolak pabrik semen di Kendeng, jember, penolakan reklamasi teluk Benoa di Bali,tumpang pitu di banyuwangi adalah beberapa potret konflik sumber daya alam yang berdampak pada hidup perempuan.  Namun, ada kegentingan dalam perjuangan perempuan dalam konflik sumber daya alam ini, ia harus dieksplisitkan, karena jika tidak, ada kecemasan bahwa perempuan hadir di dalam perjuangan bukan sebagai subjek otonom melainkan hanya sebagai simbol yang dipergunakan untuk memenuhi kepentingan yang lain. Artinya, ia tidak mengada sebagai tujuan bagi dirinya sendiri melainkan sebagai alat untuk mencapai kepentingan yang lain.

Bryan selaku PK IMM justitia memaparkan sejumlah persoalan yang dihadapi oleh perempuan dalam relasinya dengan eksploitasi dan perusakan alam.

Bagaimana pentingnya menjadikan pengalaman sebagai pengetahuan, menyebarkan pengalaman dan pengetahuan demi mencapai perubahan dan perbaikan alam.  Pengalaman adalah salah satu kata kunci dari feminisme. Ia adalah sumber pengetahuan perempuan. Penting untuk mengangkat pengalaman konkrit ketubuhan perempuan dalam menghadapi kerusakan alam, membincang bagaimana akses dan hak perempuan atas alam yang optimal.

Menurut Bryan,hanya perempuan yang dapat berfikir secara care dalam konsep keadilan,terlebih lagi mengenai konsep ekologi,alasannya adalah : Keadilan perempuan tumbuh dari pengalaman dari ketubuhannya,berbeda dengan pria yang konsep berfikir dalam otaknya adalah konsep logika,laki laki melihat keadilan terlebih lewat logika. Itu yang membedakan.

Maka dari itu dalam teori,perempuan itu adalah sumber dari ketidak adilan,dengan konsumsi setiap harinya adalah etiks of care,yang dalam hal ini berhubungan dengan etika kepedulian,terlebih pada lingkungan di sekitarnya,jadi menurut bryan hanya perempuan yang peka secara kepedulian kepada alam dengan natural.

Menurutnya,Tanpa adanya kesadaran, kita teralienasi dari apa yang kita konsumsi. Kita lupa bertanya dari mana datangnya produk-produk yang kita konsumsi seperti misalnya minyak kelapa sawit, batu bara, emas dan lain sebagainya. Apakah ia diproduksi dengan cara yang adil bagi perempuan dan alam?  Penting agar kesadaran selalu terjaga agar kita mampu melihat penindasan terhadap perempuan yang terjadi di sekeliling kita dan melakukan kritik terhadapnya.  Kesadaran harus ada untuk mengetahui bahwa eksploitasi dan perusakan lingkungan adalah isu yang berkelindan dengan logika penindasan perempuan.

Logika penindasan hanya dapat dipatahkan dengan mempertahankan argumentasi feminisme.  Feminisme adalah upaya untuk melawan naturisme dan esensialisme, yang artinya, ia berupaya menghapus seksisme. Gagasan ini menjadi penting dalam pemikiran ekofeminisme, karena logika ini berhasil mendeteksi bahwa secara konseptual seksisme beririsan dengan naturisme. Jangan sampai kita mempertahankan logika dominasi dalam memperjuangkan alam.  Jangan sampai kita menggunakan konsep “ibu bumi” untuk kepentingan budaya patriarki. Yang pada dasarnya adalah terfokus hanya pada laki-laki yang seringkali membuat regulasi yang bertentangan dengan keadilan perempuan,Menurut saya perjuangan ekofeminisme harus konsisten dan konsekuen barulah ia akan mendekat pada keadilan dan kesetaraan.

Bryan BP
Kabid Organisasi IMM Justitia

admin

leave a comment

Create Account



Log In Your Account