MASTRIP “Cerita Perjuangan Yang Terlupakan”

 

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya” ucap Ir Soekarno pada peringatan hari pahlawan 10 November 1961.

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sejarah, namun tidak semua sejarah Negeri ini kita ketahui sudah saatnya kita bangkit, bangkit dari segaa kebutaan sejarah.

Mengenal sejarah sangat diperlukan bangsa ini, karena dapat membuka wawasan pengetahuan dan sebagai pembelajaran hidup kedepannya. kali ini saya mengingat diri sendiri dan para pembaca tentang monumen mastrip yang terletak di Desa Panduman Kecamatan Jelbuk kabupaten Jember Jawa Timur.

Mastrip dimulai dari kata TRIP, yaitu Tentara Republik Indonesia Pelajar. Embrio dari TRIP adalah BKR Pelajar, yang dibentuk pada 22 Agustus 1945. Mereka dikenal juga dengan nama EX BRIGADE 17 Tentara Pelajar, sementara pihak Belanda menyebut mereka dengan Die Kleintjes TRIP. Usia rata-rata anggota TRIP antara 12 hingga 20 tahun. Mereka bukan pasukan profesional seperti gurkha, tapi berani bertempur membela bangsanya.

Kemudian apa hubungannya Kata MAS dengan TRIP…? Mas adalah sapaan umum untuk lelaki, biasanya pada yang lebih tua. Sebutan ini populer di Jawa Timur. Nah, untuk menghargai keberanian para pemuda ini, masyarakat memanggil mereka (para anggota TRIP) dengan sebutan Mas. Jadilah sebutan MASTRIP akhirnya populer di masyarakat. Mereka bermarkas di Pavilyun dari rumah keuarga Soeparman(Boediman) yang tererak di Jl. Yos Sudarso no. 4, Jember.

Alasan mengapa diletakkan di Desa Panduman adalah karena di tempat inilah terjadi peristiwa perjuangan berupa penghadangan oleh Tentara Repubik Indonesia Pelajar (TRIP)  Batalyon 4000  yang dikenal dengan pasukan kukuk beluk terhadap konvoi tentara penjajah yang akan memasuki kota Jember saat Agresi Miiter I  tahun 1947. Namun belum sempat masuk, penjajah sudah tertembak oleh TRIP dari atas dataran tinggi tersebut. Bapak Joko selaku veteran Mastrip pada saat itu mengaku bahwa penghadangan ini dilakukan setiap malam dengan bersembunyi di atas dataran tinggi tersebut. Nama mastrip dijadikan nama jalan di sebuah kota jember hingga saat ini.

menariknya dari monumen Mastrip adalah lambangnya. Helm baja sebagai latar, dan senjata laras panjang yang diletakkan menyilang dengan pena bulu ayam persis. Lambang dari Monumen Mastrip tersebut persis seperti lambang dari baju kehormatan TRIP yang dikenakan saat bergerilya.

Monumen ini dibangun tahun 1965 oleh AMD Marinir. Perjuangan Kuteruskan Sampai Akhir Zaman. Kalimat ini terukir di sebuah marmer yang letaknya ada di bawah monumen. Sama seperti ciri khas bangunan monumen yang lain, seringkali ada marmer yang berisi teks penjelasan seputar monumen. Slogan tersebut terinspirasi dari sebuah lagu berjudul ‘Temanku Pahlawan’ yang diciptakan oleh Almarhum Bapak Soewandi.

Dan kalimat ‘Perjuangan Kuteruskan Sampai Akhir Zaman’ adalah salah satu liriknya.

Menurut keterangan warga setempat, Monumen Mastrip akan diperbaharui agar banyak masyarakat yang tahu sejarahnya dan dijadikan tempat wisata seperti Puncak SJ88 yang kini banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun asing. “ Pemerintah Kabupaten Jember berencana untuk menjadikan Monumen Mastrip sebagai wahana wisata, rencananya di samping berdirinya Monumen Mastrip itu akan diletakkan tempat duduk berupa pondok-pondok bambu dan dipinggir jalan dibawah Monumen Mastrip akan ditanami bunga-bunga.” ucap warga setempat pada tanggal 21 Januari 2018 ketika saya melakukan observasi.

Masyarakat Desa Panduman memang layak diacungi jempol, karena hampir setiap bulan mereka melakukan kerja bhakti tanpa suruhan Pemerintah.

Tergabung dalam Paguyuban putera-puteri TRIP eks TNI Den-1 Brigade 17 mereka tergerak membersihkan Monumen TRIP secara suka rela.

Ketua Paguyuban putera-puteri TRIP Ir Sumarsono berharap upaya pemerintah menjadikan monumen MASTRIP sebagai objek wisata sejarah bagi Masyarakat segera terlaksana.

Semoga sejarah Monumen Mastrip ini bisa dikenal banyak orang setelah adanya pembenahan sebab kita sebagai warga Negara Indonesia wajib mengenal sejarah Bangsa kita sendiri sebelum luntur dimakan arus globalisasi.

Dina Silfiatus Sa’diyah

 

 

 

admin

leave a comment

Create Account



Log In Your Account