Cadar: antara Budaya, Syariat dan Lokalitas Indonesia

 

Hidup bermasyarakat adalah hidup bersosial dan bertetangga dengan orang lain. Seseorang tidak bisa hidup sendiri, ia tentu akan membutuhkan orang lain baik dalam pemenuhan kebutuhan maupun sekedar berbagi cerita kehidupan.

Dalam masyarakat selalu ada nilai serta norma-norma yang diyakini dan mesti dipatuhi. Nilai dan norma tersebut akan menjadi sebuah adat atau kebiasaan yang akan terus menerus dijalani.

Nilai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. Adapun norma ialah aturan atau ketentuan yang mengikat warga kelompok di masyarakat, dipakai sebagai panduan, tatanan, dan pengendali tingkah laku yang sesuai dan bisa diterima.

Negara Indonesia salah satu negara yang kental akan nilai dan norma serta budaya. Ketika terdapat satu fenomena yang dianggap tidak sesuai dengan nilai dan norma di masyarakat, bukan pula sebuah kebudayaan yang biasa terlihat, maka pandangan masyarakat tentu akan berbeda.

Salah satu fenomena yang dianggap kurang lazim bagi masyarakat Indonesia adalah kian banyak wanita yang mengenakan penutup di wajahnya, yang biasa dikenal dengan cadar atau niqab yang memiliki arti kain penutup wajah dan kepala.

Setiap kali melihat wanita bercadar kebanyakan orang akan menoleh dan memperhatikannya lebih lama, karena terkesan ada sesuatu yang berbeda sehingga ingin terus dilihat. Aktifiitas seperti itu tentu kurang santun untuk dilakukan apalagi dibiasakan.

Setiap orang ingin dihargai dan enggan untuk dicurigai. Dengan terus menerus mengamati disertai dengan tatapan curiga tentu akan membuat orang yang dilihat tersinggung.

Pemakaian niqab atau cadar ini memang kurang sesuai dengan adat masyarakat di Indonesia. Karena masyarakat tahu bahwa aurat wanita ialah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Sehingga ketika melihat fenomena maraknya wanita bercadar, mayoritas masyarakat akan menganggap hal itu berlebihan. Tidak sesuai dengan yang Islam gariskan dalam Al-Qur’an maupun hadits Nabi SAW. Mayoritas masyarakat pun menganggap cadar berasal dari budaya Arab yang akhirnya menjadi pembahasan dalam Islam. Padahal hal tersebut belum pasti adanya.

Dalam penelitian M. Quraish Shihab mengungkapkan bahwa memakai pakaian tertutup termasuk cadar bukanlah monopoli masyarakat Arab, dan bukan pula berasal dari budaya mereka. Bahkan menurut Murtada Mutahhari, seorang ulama besar dan filosof Iran Kontemporer, pakaian penutup termasuk cadar telah dikenal di kalangan bangsa-bangsa kuno, jauh sebelum datangnya Islam, dan lebih melekat pada orang-orang Persia, khususnya Sassan Iran, dibandingkan dengan di tempat-tempat lain.

Ada pula pakar lain yang menyebutkan bahwa orang-orang Arab meniru orang Persia yang mengikuti agama Zardasyt dan yang menilai bahwa wanita sebagai makhluk tidak suci yang pada akhirnya mereka diharuskan untuk menutup mulut dan hidungnya agar tidak mengotori api suci yang menjadi sesembahan agama Persia lama.

Sementara pada masa awal Islam lahir yaitu pada masa jahiliyah, para wanita memang sudah memakai kerudung namun kerudung tersebut hanya sekedar diletakkan di kepala dan biasanya terulur ke belakang. Sehingga perhiasan mereka terlihat dengan jelas. Itulah sejarah singkat tentang cadar yang sering menjadi perbincangan di masyarakat.

Penggunaan cadar atau niqab ini memangakan mudah kita temui di negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Mesir, Kuwait, dan sebagainya. Di negara-negara tersebut menggunakan cadar sudah menjadi kebiasaan dan tuntutan karena memang kondisi lingkungan yang mengharuskan demikian. Hal ini disebabkan udara panas nan gersang di daerah tersebut yang bisa memberi dampak yang buruk bagi kulit bila tidak ditutupi.

Seorang wanita yang mengenakan cadar tidak mesti dia muslimah. Di negara-negara Arab tersebut banyak wanita non muslimah namun menggunakan hijab plus cadar yang menutup seluruh tubuhnya mulai dari kaki hingga kepala.

Wanita bercadar kerap kali diidentikkan dengan haluan garis keras yang sempat menjadi topik perbincangan hangat di masyarakat. Bahkan ada yang sampai menghakimi terorisme dan sebagainya. Padahal faktanya hal demikian belum tentu benar adanya atau mungkin hanyalah praduga-praduga semata tanpa didasarkan pada bukti yang jelas.

Sebagai seorang muslim hendaknya kita tidak mudah menghakimi muslim lain. Setiap orang berhak menentukan pilihannya, termasuk dalam hal pakaian yang ia kenakan. Itu hak individual, selama hal tersebut tidak merugikan orang lain.

Tak bisa dipungkiri di Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam pun tak sedikit yang mengenakan cadar. Seorang muslimah tentu memiliki alasan tersendiri mengapa ia mengenakan cadar. Ada yang memang tulus ingin menutupi agar tidak sembarang orang bisa memandang wajahnya. Ada juga yang memang hanya ingin coba-coba dan sebagainya.

Memang tidak ada dalil yang memerintahkan untuk mengenakan niqab atau cadar. Pun tidak ada dalil yang melarangnya, yang ada hanya perintah untuk menutup aurat dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tuntunan Islam.

Islam menuntun umatnya untuk senantiasa kaffah atau totalitas dalam menjalankan segala aturannya. Menjauhi segala larangannya. Menggunakan niqab atau cadar ini bukanlah pertanda kaffah-nya keislaman seseorang. Semua tergantung pada niatnya. Sebagaimana dikatakan dalam hadits : “Semua amal perbuatan tergantung niatnya dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan”.

Muslimah yang bercadar ataupun tidak tetap harus senantiasa mematuhi serta menjalankan aturan Islam dengan totalitas dan disertai niat yang ikhlas. Bercadar atau tidak seorang muslimah tetap harus membaur dengan masyarakat, tidak mengasingkan diri dari pergaulan dan tetap berkontribusi bagi lingkungan sekitar.

Wallahu ‘alam bishshawab …

Ana D. Itsna Pebriana

(Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab UIN Bandung)

 

 

 

Lainnya:
News Reporter
Skip to toolbar